SEAMEO Centre-Perpustakaan UPI Kupas  Pembelajaran Terbuka
Perpustakaan di masa depan tidak akan memiliki rak buku. REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG --  Perkembangan internet dan teknologi digital telah mengubah  cara orang belajar. Sumber pembelajaran tidak lagi statis dan langka, tetapi beradaptasi dan tersedia secara luas. Hal ini   memungkinkan lembaga pendidikan, guru, dan peserta didik  untuk berpartisipasi aktif dalam pertukaran pengetahuan global melalui sumber pembelajaran terbuka […]

Perpustakaan di masa depan tidak akan memiliki rak buku.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG --  Perkembangan internet dan teknologi digital telah mengubah  cara orang belajar. Sumber pembelajaran tidak lagi statis dan langka, tetapi beradaptasi dan tersedia secara luas. Hal ini   memungkinkan lembaga pendidikan, guru, dan peserta didik  untuk berpartisipasi aktif dalam pertukaran pengetahuan global melalui sumber pembelajaran terbuka atau Open Educational Resources (OER).

Terkait hal ini, SEAMEO Centre Indonesia, yakni SEAMEO QITEP in Language(SEAQIL), SEAMEO QITEP in Science (SEAQIS), dan SEAMEO Regional Centre For Early Childhood Care Education and Parenting (SEAMEO CECCEP) bersama  Perpustakaan UPI dan Perpustakaan Kemendikbud  menyelenggarakan webinar Sumber Daya Pembelajaran  Terbuka dalam Meningkatkan Literasi Nasional pada Kamis (25/02). 

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UPI, Prof  Dr  Didi Sukyadi MA  yang turut memberikan  sambutan menyampaikan bahwa terkait perkembangan sumber pembelajaran terbuka, perpustakaan di masa depan tidak akan memiliki rak buku, tetapi lebih banyak  menyediakan perangkat digital yang dapat diakses dengan  mudah. Didi Sukiyadi kemudian berharap bahwa Universitas Pendidikan Indonesia dapat bersinergi dengan baik untuk menunjang misi SEAMEO Centre Indonesia, khususnya  terkait potensi sumber daya pembelajaran terbuka melalui pemanfaatan perpustakaan.

Kegiatan kemudian dibuka oleh Plt  Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikbud, Ir  Hendarman MSc, PhD. Dalam sambutannya, Hendarman  menyampaikan bahwa dalam prinsip pembelajaran terbuka idealnya semua materi/bahan ajar dapat diakses, dibagi, dan digunakan kembali. Dengan adanya pandemi Covid-19, semua pihak di sektor pendidikan harus memanfaatkanTeknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam berbagi sumber  belajar.

"Oleh karena itu, SEAMEO Centre Indonesia, khususnya SEAQIL, SEAQIS, dan SEAMEO CECCEP diharapkan dapat membantu membuat terobosan dalampeningkatan literasi dan numerasi di Indonesia," kata Hendarman seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Kegiatan yang telah menarik perhatian lebih dari 1000 pesertaini, baik melalui Zoom maupun siaran langsung YouTube, melibatkan pemangku kepentingan/pakar dari SEAQIL (Dr. Luh Anik Mayani), SEAQIS (Dr Indrawati), dan CECCEP (Dr. Dwi Priyono), serta Perpustakaan UPI (Dr. Riche Cynthia Johan, M.Si.) dan Creative Commons Indonesia (WahyuSetioko). 

Memasuki sesi paparan, Direktur SEAMEO CECCEP, Dr  Dwi Priyono, menyampaikan bahwa dalam era Revolusi Industri 4.0 dibutuhkan inovasi, otomasi, dan transformasi informasi di mana banyak pekerjaan dilakukan dengan berbasis internet. Dwi Priyono mengungkapkan bahwa terkait dengan perkembangan Revolusi Industri 4.0 dan OER, SEAMEO CECCEP berkomitmen menjadi hub dalam mengumpulkan dan menyalurkan sejumlah hasil  pengembangan dan penelitian serta praktik baik di bidang PAUD dan Parenting yang dapat dimanfaatkan oleh benyak pihak.

"Pendidik, orang tua, pemerhati PAUD, dan pemangku kepentingan lainnya dapat  memanfaatkan model, dan jurnal/hasil penelitian serta modul pembelajaran yang dapat diakses di laman www.seameo-ceccep.org," ujar Dwi Priyono.

Direktur SEAQIL, Dr  Luh Anik Mayani, dalam paparannya  mengenai pemajuan literasi melalui perpustakaan sebagai sumber belajar, menyampaikan bahwa literasi penting karena  ada beberapa kemampuan dasar yang dilibatkan, yakni membaca, menulis, dan menghitung yang penting bagimanusia untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan  kehidupan sehari-hari. Terkait literasi di Indonesia, Luh Anik menyoroti rendahnyan hasil PISA dan indeks minat baca Indonesia yang kemudian direspons oleh SEAQIL dengan  menggagas Klub Literasi Sekolah (KLS). "Lebih lanjut, publikasi dan sumber belajar produksi SEAQIL dapat diaksesmelalui laman www.qiteplanguage.org, serta kanal YouTube dan akun media sosial SEAQIL," papar Luh Anik.

Direktur SEAQIS, Dr  Indrawati  menyampaikan sumber pembelajaran terbuka yang dikembangkan oleh SEAQIS. Indrawati menjelaskan bahwa kerangka program SEAQIS terdiri atas tiga kerangka utama, yaitu Pengembangan Keprofesionalan Guru dan Tenaga Kependidikan IPA, Pengembangan Sumber Pembelajaran IPA, dan Pelayanan pada Komunitas Pembelajaran.

"Salah satu program yang dikembangkan pada kerangka kedua adalah pengembangan  sumber pembelajarann terbuka di mana para guru dan tenaga  kependidikan IPA dapat memperoleh berbagai macam sumber  pembelajaran pada platform yang digunakan oleh SEAQIS, antara lain melalui laman resmi (www.qitepinscience.org), kanal YouTube, dan akun media sosial," tutur Indrawati.

Kepala perpustkaan UPI, Dr  Riche Cynthia Johan  MSi  menyampaikan bahwa konsep pembelajaran terbuka  merupakan bagian dari bahan ajar, belajar, dan bahan  penelitian dalam media apapun yang berada dalam domain   publik dan telah dirilis dengan menggunakan lisensi terbuka.

Hal ini memungkinkan akses, penggunaan, penggunaan  kembali dan redistribusi oleh orang lain dengan pembatasan atau tanpa pembatasan, sehingga dalam pelaksanaannya dapat  mendorong peningkatan kemampuan literasi masyarakat. "Hal ini karena konsep belajar yang dapat diakses dimanapun dan kapanpun tanpa batasan ruang dan waktu," kata Riche.

|0|https://www.republika.co.id/berita/qp33db374/seameo-centreperpustakaan-upi-kupas-pembelajaran-terbuka|1|https://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/seameo-centre-indonesia-bersama-perpustakaan-upi-wenggelar-sebinar-tentang_210225191442-380.jpeg|2|www.republika.co.id|E|

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *