PWNU Jatim Komentari Kontroversi Legalisasi Minuman Keras
[*] GAYUNGAN, YOBANDUNG.COM — Ketua Pengurus Wilayah Nahdaltul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim) K.H. Marzuki Mustamar angkat bicara perihal kebijakan pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 10 tahun 2021 tentang Usaha Penanaman Modal yang juga mengatur investasi industri minuman keras (miras) yang sampai saat ini menuai pro kontra. "Di Ulama NU, kalau dari pada itu […]
[*]

GAYUNGAN, YOBANDUNG.COM — Ketua Pengurus Wilayah Nahdaltul Ulama Jawa Timur (PWNU Jatim) K.H. Marzuki Mustamar angkat bicara perihal kebijakan pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 10 tahun 2021 tentang Usaha Penanaman Modal yang juga mengatur investasi industri minuman keras (miras) yang sampai saat ini menuai pro kontra.

"Di Ulama NU, kalau dari pada itu beredar luas, lalu dilakukan pembatasan. Itu bahasa kita bukan legalisasi, tapi melokalisir," terangnya, Senin (1/3/2021).

"Daripada dibiarkan, nanti masuk ke kampung santri. Ke kampung mana-mana, ya lebih baik di suatu kawasan saja" timpalnya lagi.

Regulasi yang ada dalam Perpres itu disebutkan bahwa pembukaan industri miras hendak dicanangkan di empat provinsi, mulai dari Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Bali, sampai Sulawesi Utara. 

Alasan dipilihnya beberapa wilayah tersebut lantaran telah ada sejumlah industri miras lokal. Bahkan, terdapat tradisi, budaya atau kebiasaan yang memperbolehkan warganya mengkonsumsi miras.

"Andai seperti itu reaksi dan keinginan Presiden. Mungkin, istilah yang paling pas adalah melokalisir, bukan melegalisir," lanjutnya

Menurutnya, pada Hotel tertentu yang memiliki tamu asing masih dijumpai adanya miras. Sebab, di Eropa misalnya, terbiasa dengan hawa dingin. Salah satu cara atau kebiasaan mereka untuk menghangatkan tubuh adalah mengkonsumsi minuman beralkohol.

Oleh karena itu, ia mengaku inisiatif pembatasan atau melokalisasi miras oleh pemerintah justru lebih baik agar tidak menyebar kemana-mana.

"Daripada woro-woro (koar-koar), ngabyak-ngabyak nandi-nandi (tak beraturan kemana-mana) yang malah gak terkendali. Kalau pemerintah punya inisiatif membatasi, tentu malah baik," tandas dia.

Namun, ia berharap agar pemerintah ataupun para ahli untuk lebih membatasi lagi (pembuatan miras), lebih detail perihal regulasi yang tengah ramai diperbincangkan itu.

"Setelah dibatasi, lama-lama lebih dibatasi lagi. Syukur-syukur, para ilmwuan berpikir keras bagaimana menciptakan minuman yang gak pakai alkohol, tetapi fungsi menghangatkan tubuh, itu ada," tutup dia. [*]

|0|https://ayobandung.com/read/2021/03/01/194870/pwnu-jatim-komentari-kontroversi-legalisasi-minuman-keras|1|https://cdn.ayobandung.com/upload/bank_image/medium/pwnu-jatim-komentari-kontroversi-legalisasi-minuman-keras.jpg|2|ayobandung.com|E|

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *