Sejarawan Imbau Makna Supersemar untuk Berbangsa dan Bernegara
[*] GUBENG, AYOBANDUNG.COM — Sejarah panjang tentang asal-usul, alur, dan dampak Surat Perintah 11 Maret (Supersemar), pada masa kepemimpinan Soekarno, masih menimbulkan sejumlah tanda tanya. Mengingat "surat ajaib" itu membuat Soeharto didapuk menjadi pengganti Sang Proklamator. Dosen Sejarah di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Purnawan Basundara, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, publik masih belum mengetahui detail percakapan dan pelaksanaan dari Supersemar kala itu, […]
[*]

GUBENG, AYOBANDUNG.COM — Sejarah panjang tentang asal-usul, alur, dan dampak Surat Perintah 11 Maret (Supersemar), pada masa kepemimpinan Soekarno, masih menimbulkan sejumlah tanda tanya. Mengingat "surat ajaib" itu membuat Soeharto didapuk menjadi pengganti Sang Proklamator.

Dosen Sejarah di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Purnawan Basundara, membenarkan hal tersebut. Menurutnya, publik masih belum mengetahui detail percakapan dan pelaksanaan dari Supersemar kala itu, terutama pada 3 Jenderal yang diutus Soeharto menemui Soekarno di Istana Bogor. Ketiganya yakni Pangdam Jaya Brigjen Amir Mahmud, Menteri Perindustrian Brigjen M.Yusuf, dan Menteri Veteran Brigjen Basuki Rahmat.

Saat ditanya apakah ada penyalahgunaan wewenang terhadap pelaksanaan Supersemar, Purnawan menegaskan tidak. Namun, Soeharto menjalankan perintah sesuai amanat Soekarno untuk meredam situasi yang kacau di sejumlah daerah, utamanya di Jakarta. 

"Tidak bisa dikatakan demikian, kondisi di Jakarta yang menyebabkan terjadinya itu (Supersemar) tadi pergeseran makna dari surat perintah itu. Di satu sisi, Bung Karno kan sebenarnya semakin melemah, karena kepercayaan masyarakat Indonesia, terutama yang ada di Jakarta, yang diwakili para demonstran, semakin menurun. Di satu sisi yang lain, Pak Harto sebagai pimpinan Angkatan Darat pada waktu itu yang masih selamat, mencoba mengatasi persoalan di sana," kata Purnawan kepada AyoSurabaya.com, Rabu (10/3/2021).

Purnawan menilai, Soeharto juga melakukan konsolidasi dengan kekuatan-kekuatan Angkatan Darat yang ada di Jakarta. Kemudian menyebabkan pelan-pelan posisi Bung Karno kian melemah.

Dari situlah, posisi Soeharto semakin menguat. Sehingga, terjadi transfer kekuasaan dari Bung Karno kepada Soeharto pasca chaos yang berlangsung di Jakarta.

Bila mengacu terhadap Supersemar kala itu, perlahan-lahan Soeharto memang mendapat kekuasaan sampai dengan menjadi presiden Republik Indonesia, yang notabene merupakan dampak langsung adanya "surat ajaib" itu. Artinya, Supersemar dari Bung Karno dianggap Purnawan berdampak sangat luar biasa terhadap situasi politik pada awal tahun 1966. Hingga akhirnya Soeharto dilantik sebagai presiden di tahun 1968.

Purnawan ingin, masyarakat Indonesia harus arif dalam menyikapi Supersemar. Selain kadung terjadi, namun ada aspek positif di balik hal tersebut.

"Selain aspek mudaratnya (buruk), ada kebaikannya, lebih banyak yang mana? Menurut saya, situasi saat itu memang darurat dan Supersemar itu adalah jalan terbaik yang terjadi pada saat itu untuk mengatasi suasana yang nyaris tidak terkendali pasca pemberontakan G30SPKI. Nah, kalau pun dalam perjalanannya itu posisi Pak Harto mengalami perubahan-perubahan, itu adalah konsekuensi dari sebuah perubahan. Artinya, Pak Harto adalah seorang tentara yang kemudian gaya memimpinnya adalah gaya tentara, inilah realitas histori yang terjadi saat itu, kita harus melihat ke sana," pungkas pria yang kerap menjadi jujukan historis kota pahlawan itu.

Selain dianggap menjadi cara terbaik dalamm mengatasi persoalan yang ada di Indonesia pada saat itu, namun masih ada alternatif lain untuk mencari jalan keluar mempermasalahan pelik saat chaos tersebut. Misalnya, sebut Purnawan, dengan cara pemilu. Meski begitu, masyarakat dapat menjadikan peristiwa Supersemar sebagai sebuah pelajaran. Terutama dalam bernegara.

Purnawan berharap, para penerus bangsa, politikus, atau petinggi negara sekalipun untuk dapat mengambil hikmah dalam peristiwa Supersemar itu. Apalagi, dalam menjalankan proses pemerintahan, dibutuhkan referensi dan guru yang lebih mumpuni serta pengalaman.

"Untuk menjalankan proses pemerintahan dengan baik, ini (Supersemar) penting untuk pemimpin sekarang. Dengan begitu, kita bisa melakukan proses transfer kepemimpinan secara konstitusional. Kalau kepemimpinan baik dan secara demokratis, maka transfer kepemimpinan dari satu periode ke periode lain itu bisa dilakukan dengan baik dan konstitusional melalui pemilu. Itu instrumen yang paling baik. Saya kira, itu pelajaran yang paling berharga sampai saat ini," tandas dia. [*]

|0|https://ayobandung.com/read/2021/03/10/198814/sejarawan-imbau-makna-supersemar-untuk-berbangsa-dan-bernegara|1|https://cdn.ayobandung.com/upload/bank_image/medium/sejarawan-imbau-makna-supersemar-untuk-berbangsa-dan-bernegara.jpg|2|ayobandung.com|E|

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *